Feed on
Posts

Rogads ke Warteg


rogads @ Waroeng Cici Tegal

rogads @ Waroeng Cici Tegal

Belum lama bergabung dengan rombongan pekerja sepeda sudah banyak agenda acara menanti. Hari minggu kemarin salah satunya. Rogad (Rombongan Gado-gado) diundang ke acara pembukaan warung makannya Cici Tegal, namanya warungnya : Waroeng Cici Tegal. Lewat om Miko yang kenal dengan mbak Cici atau sebut saja om Miko yang ‘meracuni’ mbak cici untuk bersepeda, akhirnya mbak cici mengundang Rogad untuk hadir saat pembukaan warung barunya.

Menu utamanya Soto bumbu tauco khas Tegal. Rasanya, hm.. nikmat banget. Terasa lebih nikmat karena dimakan bareng sama teman-teman -)

Rogad juga meramaikan pawai Karnaval Jakarta minggu lalu. Cek aja kecerian yang dibuat Rogad di Album foto Picasa dan efbe.

Posted in Rogad Tagged: karnaval jakarta, kuliner, Rogads, sepeda, warung cici tegal

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/07/02/07110687/proses.demokrasi.di.afganistan.butuh.duit.banyak

Amrik itu selalu berpikir akan ketakutannya pada Taliban. Mereka berperang habis-2an dalam posisi keuangan yang begitu berat akibat depresi. Lalu berteriak ke Eropa (khususnya Jerman) untuk ikut mendanai perang Afghanistan.

Hal yang dilupakan oleh Amrik adalah persepsi masyarakat Eropa pada Taliban. Benarkah orang Eropa (Jerman) itu takut dengan pemerintahan Taliban? Jika mereka boleh memilih maka mereka (Jerman dan Eropa) pasti lebih suka pemerintahan yang lunak, yang bukan model Taliban.

Tapi jika mereka diminta mengeluarkan uang banyak demi memerangi Taliban, rasanya mereka tidak tertarik melakukannya. Bagi orang Jerman yang sama sekali tidak memiliki natural resources dan setelah PD II mereka “mengharamkan” kebijakan eksploitasi negara lain, maka mencari Euro demi Euro keuntungan adalah kerja-2 riil yang melelahkan. Tidak mungkin mereka mau menghamburkannya demi berperang tidak jelas dengan Taliban.

Saya pribadi menangkap alasannya sederhana mengapa Jerman tidak “khawatir” Taliban kembali berkuasa sbb:

Pertama, jika Taliban memimpin mereka mau ngapain sih? Boleh saja Taliban bicara melambung-2 tentang cerita-2 mimpi sentimen agama: mendirikan Ke-khalifan Islam (versi Taliban tentu saja), sistem Ekonomi Islam, Sistem Hukum Islam dengan cara-2 kegemarannya.

Tapi akhirnya mereka terbentur pada satu realitas: bagaimana mensejahterakan masyarakatnya! Dan pada saat Taliban mulai mensejahterakan masyarakat dan rakyatnya maka disitulah meritokrasi, kerja-2 profesional, diplomasi perdagangan yang lebih menentukan. Kesepakatan aturan main dengan standard internasionallah yang akhirnya bicara.

Pada akhirnya Taliban akan kompromi dengan norma-2 „kebenaran“ bersama. Pada akhirnya Taliban akan dipaksa keadaan untuk bekerja sama dengan negara lain dan menunjukan kompetensi profesionalnya.

Kedua, apa tidak melihat sejarah saja. Turki yang begitu pernah dominan, pernah menguasai bagian Eropa saja, ternyata sistem ke-Khalifahannya berubah menjadi dinosaurus usang. Sistem kekalifahan tsb meskipun di abad pertengahan pernah jaya, tapi dalam konteks hari ini itu kehilangan aktualisasinya. Sistem itu sudah menjadi masa lalu…

Jika Turki saja gagal, bahkan parahnya rakyat Turki sempat trauma dengan sistem yang namanya Islam sehingga mereka beramai-2 selama puluhan tahun “meninggalkan” Islam menjadi sekular. Lantas, apa iya Taliban mampu membangun kejayaan kembali ke-khalifahan Islam (versi Taliban)?

Turki baru bisa kembali melakukan revitalisasi akhir-2 ini justru saat pemerintahannya yang Islam humanis lah yang memimpin. Jadi, jika Turki diambil sebagai referensi maka pada akhirnya umat Islam yang humanis lah yang mampu melakukan kerja-2 riil yang mensejahterakan.

Ketiga, Juga tidakkah melihat berbagai pergerakan-2 keras atas nama Islam misalkan di Philipina Selatan. Pemerintah Manila dulunya begitu phobia dengan pergerakan itu sehingga harus berperang puluhan tahun menghamburkan biaya. Begitu juga Indonesia dengan Acehnya. Tapi lihatlah saat mereka menjadi pemimpin, toh pada akhirnya mereka menyadari bahwa memerintah dengan tujuan mensejahterakan rakyat tidak bisa dilakukan oleh slogan dan cara-2 fasis. Itu harus kerja riil.

Nur Misuari, pemimpin pemberotak Islam di Philipina, saat diberi kesempatan berkuasa tenyata gagal total. Slogan-2 cerita tentang membangun sistem Islam tinggal cerita mati. Rakyatnya (Pilipina Selatan) yang dulu percaya bahwa dengan atas nama pemimpin dan pemerintah Islam maka akan sejahtera, ternyata menemui realitas frontal yang beroposisi dengan mimpi-2nya. Bahkan Nur Misuari sempat tertuduh terlibat korupsi.

Lihat juga Aceh. Toh para GAM yang dulunya dalam slogan ingin mendirikan sistem Islam, pada akhirnya mereka dipaksa untuk melakukan kerja-2 riil dalam karya. Mereka berhadapan dengan realitas. Sekarang justru malah tidak terdengar lagi slogan-2 sistem Islam. Dan jika akhirnya para pemimpin Aceh gagal mensejahterakan, apalagi jika korupsi merajalela disana, sangat mungkin “sistem Islam” yang ada akan dibongkar ulang.

Lihat juga Ahmadinejad yang begitu keras di Iran. Toh akhirnya dia mendapat perlawanan dalam negeri sendiri saat tidak berhasil mensejahterakan rakyatnya. Saat pengangguran meningkat, saat kinerja pemerintahan untuk membangun perekonomian melemah maka saat itu rakyat pasti akan membuat koreksi. Ahmadinejad dipaksa oleh keadaan untuk mengkoreksi garis kerasnya dan lebih fokus pada kinerja ekonomi.

PKS pun di Indonesia, para pemimpinnya juga dipaksa keadaan bahwa slogan-2 atas nama Islam akhirnya ditagih oleh konstituennya dalam bentuk prestasi riil. Mereka (para pemimpin PKS) akhirnya dipaksa untuk menunjukkan bahwa kinerja mereka harus lebih baik dari pemimpin partai sekular. Pada akhirnya prestasilah yang bicara bukan sentimen agama.

XXX

Berangkat dari hal tersebut, apa yang saya rasakan di Jerman, tampaknya masyarakat Jerman (atau Eropa) “tidak terlalu perduli” apakah Taliban kembali berkuasa atau tidak. Toh akhirnya Taliban saat jadi penguasa akan dipaksa untuk melakukan kerja profesional.

Jika dia gagal, akhirnya akan tertinggal dan terbelakang. Jika dia berhasil menjadi besar, yah bukankah dengan demikian justru akan baik untuk semuanya. Itu justru akan membuat daerah Asia Tengah menjadi lebih stabil.

Hanya yang harus dicatat, dalam konteks saat ini tidak ada negara yang bisa menunjukkan kinerja ekonominya dan mampu mensejahterakan rakyatnya jika memilih cara-2 fasis dalam pemerintahannya. Serta saya juga yakin bahwa orang-2 Eropa tidak percaya sistem Islam akan bangkit dalam waktu dekat. Apalagi bangkitnya dari tangan Taliban.

Sebuah sistem bisa menemukan kembali revitalisasinya pasti diawali dulu dengan kebangkitan pemikiran para scholarnya. Jadi, pertama kali para akademis dan intelektual Islam mampu mewarnai pemikiran-2 baru dalam berbagai kajian sosial. Lalu masyarakatnya mulai tercerahkan. Lalu membentuk pemerintah bersih hasil pencerahan. Lalu mulai-2lah kerja-2 meritokrasi berjalan. Lalu barulah memegang supermasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jadi, berkaca dari itu adalah hil yang mustahal bahwa Taliban akan mengancam Eropa. Akibatnya saat si Amrik bicara tentang Taliban, si Jerman akan bilang: Emangnya guwe pikirin )

Salam hangat,

Dari Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Proses lahirnya sebuah portal (yang kemudian menjadi sebuah bisnis online) bersumber dari sebuah ide. Ide yang kemudian dikembangkan menjadi konsep ini biasanya bersumber pada beberapa fakta, yaitu: - Ada kebutuhan/peluang untuk membuat portal seperti ini - Belum ada yang mengisi peluang itu (belum ada pesaing) - Kita memiliki kompetensi untuk membuat portal tersebut (mengisi peluang itu) Gagasan/konsep itu kemudian [...]

Kabur

Telepon berdering di suatu pagi buta, di penghujung musim dingin. Udara dingin yang menyapu hidungku hingga ke rongga dalamnya mengingatkan aku satu hal: di luar sana dingin, kontras benar dengan kehangatan futon yang membungkus tubuhku. Peringatan itu langsung mematikan gerak reflek tubuhku yang tadinya hendak beranjak bangun ketika mendengar dering telepon. Aku bertahan, berharap penelepon menyadari bahwa dia menelpon terlalu pagi.

Tapi harapanku sia-sia. Dering telepon hanya berhenti sejenak, lalu mulai lagi. Aku fikir ini pasti telepon penting. Mungkin dari keluarga di tanah air. Dengan malas aku melangkah ke pesawat telepon di ruang tengah.

“Halo….

“Pak Hasan?”

“Ya…” jawabku sambil mengantuk.

„Ini Nadri, Pak.“

„Iya. Ada apa?“ tanyaku datar. “Siapa pula Nadri ini”, fikirku.

“Pak, saya ambil keputusan. Saya mau kabur.”

“Apa???!!” teriakku. Sekarang aku ingat siapa si Nadri ini.

„Iya, Pak. Maaf, saya tidak mengikuti nasihat, Bapak. Doakan saya ya, Pak.”

Lalu telepon diputus tergesa-gesa.

Masih agak mengantuk aku henyakkan punggungku ke sandaran sofa butut di ruang tengah. Dingin masih terasa menggigit di permukaan kulitku. Tapi tak ku hiraukan. Fikiranku tak bisa lepas dari Nadri.

„Nekat benar dia.“ fikirku putus asa.

Aku hanya pernah bertemu Nadri sekali. Bukan pula pertemuan yang disengaja. Waktu itu aku dalam perjalanan pulang dari Sendai, sebuah kota di bagian utara Jepang. Saat itu aku menetap di Kumamoto, sebuah kota di pulau Kyushu, di bagian selatan.

Hari itu, seperti biasa aku tiba di bandara hampir 2 jam sebelum keberangkatan pesawat. Tak ada hal yang perlu dikerjakan di hotel. Jadi aku memilih untuk cepat-cepat saja ke bandara. Tak ada yang menarik di sini. Ini bandara kecil saja. Aku sudah ke sini lebih dari sepuluh kali. Karena itu segera setelah check in aku langsung menuju ke ruang tunggu untuk duduk-duduk.

Di ruang tunggu itu untuk pertama kali aku melihat Nadri. Ia waktu itu bersama 3 orang temannya. Sejak melihatnya dari kejauhan aku sudah langsung bisa mengenali mereka. Empat orang pemuda, berumur sekitar 25 tahun. Berkulit gelap, kontras dengan orang-orang Jepang di sekeliling mereka. „Mereka pasti trainee dari Indonesia“, fikirku. Aku langsung menuju ke kursi tempat mereka duduk.

„Orang Indonesia, ya?“ sapaku. Lalu kami berkenalan.

Berempat mereka dalam perjalanan dari Kesennuma, sebuah kota pelabuhan kapal penangkap ikan, berpuluh kilometer di utara Sendai. Aku pernah sekali berkunjung ke kota yang menghadap ke laut Pasifik ini. Di sana memang ada cukup banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan.

Tapi Nadri dan kawan-kawannya bukan pekerja. Mereka trainee. Ada ribuan, bahkan mungkin belasan ribu trainee asal Indonesia di Jepang. Mereka belajar dengan cara magang, belajar sambil bekerja di berbagai tempat.Aku beberapa kali bertemu dengan para trainee ini dalam berbagai kesempatan. Umumnya pertemuan tak sengaja, saat main ke kota, di tempat wisata. Ada pertemuan yang berlanjut. Beberapa trainee di sekitar Kumamoto sesekali berkunjung ke rumahku, khususnya saat lebaran.

Ada beberapa trainee yang aku temui di kantor imigrasi. Mereka ini trainee yang bermasalah. Ada yang terlibat tindak kriminal di tempat kerja, antara lain berkelahi. Ada pula yang melanggar aturan keimigrasian, yaitu kabur dari majikan tempat magang, lalu tinggal melebihi batas waktu yang ditetapkan pada visa mereka. Karenanya mereka diproses untuk dipulangkan ke Indonesia. Aku jadi penerjemah saat mereka dalam proses pemeriksaan di imigrasi.

Dari berbagai pertemuan itu terekam berbagai cerita. Ada cerita indah. Para trainee itu magang di perusahaan. Sambil magang mereka diajari berbagai ketrampilan teknis. Ada yang disuruh ikut kursus bahasa Jepang di akhir pekan. Beberapa trainee yang aku temui merasa puas. Dengan sisa uang saku yang mereka tabung, ditambah ketrampilan yang mereka peroleh, mereka berniat membuka usaha kalau nanti sudah pulang. Bahkan ada trainee yang tadinya memang sudah sarjana di Indonesia, berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah S2.

Tapi tak sedikit pula kisah pilu. Ada trainee yang dipekerjakan bak kuli. Di proyek-proyek konstruksi, mereka hanya jadi tukang angkut, tukang pikul. Tak ada ketrampilan khusus yang bisa dipelajari di situ. Mereka dipekerjakan melebihi batas maksimal jam kerja, tanpa uang lembur. Alasannya, mereka trainee, tidak berhak atas uang lembur. Uang saku yang mereka terima pun, jauh di bawah standar upah minimum di Jepang.

Itulah yang dialami Nadri dan kawan-kawan.

Nadri kebetulan sekampung denganku. Ia berasal dari Sambas, pesisir utara Kalimantan Barat. Kampungku ada di pesisir selatan. Ia lulusan SMK Perikanan. Lulus SMK iya menganggur, hanya kerja serabutan. Ia tertarik melamar saat mendengar ada kesempatan magang di Jepang melalui Disnaker. Ia tahu jepang maju dalam bidang perikanan. Ia berharap dapat ketrampilan dan pengetahuan di sana.

Nadri ditempatkan di sebuah kapal penangkap ikan, kalau tak salah khusus untuk menangkap ikan tuna (maguro). Wilayah operasinya di Indonesia juga. Di sekitar Papua. Sekali melaut menghabiskan waktu 2-3 bulan. Pekerjaannya tak lebih dari tukang angkat dan tukang pikul. Tak ada teknik khusus yang diajarkan. Ia sama sekali tak dapat kesempatan untuk, misalnya, belajar mengoperasikan peralatan.

Soal upah dan jam kerja yang tak seimbang adalah keluhan utama Nadri. Rekan-rekannya yang bekerja di darat mendapat uang saku sekitar 70-80 ribu yen sebulan. Mereka umumnya libur pada hari Minggu. Nadri selama melaut harus bekerja tanpa libur. Uang saku yang dia terima 50 ribu yen. Sebenarnya jumlah ini tak jauh berbeda nilainya dengan teman-temannya yang bekerja di darat tadi. Para trainee yang kerja di darat itu harus membayar sendiri sewa tempat tinggal berikut kebutuhan makan mereka. Sedangkan Nadri, semua kebutuhan itu ditanggung perusahaan. Tapi bagi Nadri, kerja berbulan bulan tanpa libur itu sungguh berat. Ia hanya libur saat kapal merapat, sekitar 1 minggu sebelum kembali melaut.

Aku mendengar keluhan Nadri sambil mencoba membetulkan cara pandangnya.

“Orang Jepang itu kasar, Pak. Suka memaki. Kalau saya salah dalam bekerja, saya dimaki-maki.”

“Budaya mereka memang begitu. Saya saja, yang sudah S2 dan calon doktor juga dimaki-maki oleh Sensei saya.”

“Lebih parah lagi, mereka kadang main tangan. Main tempeleng.“

Nadri tak mengada-ada. Trainee yang aku temui saat dia sedang menjalani proses hukum di kantor imigrasi juga bercerita tentang hal yang sama.

Sering aku lihat di acara TV. Pembuat ramen (la mien dalam bahasa Cina, bakmi) yang sedang belajar pada yang sudah senior sering mendapat perlakuan itu. Dimaki-maki, tak jarang dipukul. Pukulan itu menurutku bukan untuk menyakiti, tapi untuk menggugah kesadaran. Namun bagi orang Indonesia macam Nadri, hal seperti itu dianggap tak patut.

Nadri mengungkapkan niatnya untuk kabur. Artinya lari dari majikannya, lalu bekerja sebagai pekerja ilegal. Berulang kali aku berusaha mencegahnya.

„Kamu akan ditangkap. Itu pasti. Bagaimanapun lihainya kamu lari, kamu pasti akan tertangkap.“

„Tidak apa-apa. Yang penting kerja, kumpulkan uang, segera kirim uang itu ke Indonesia. Saat
tertangkap nanti, kalau kita tidak punya uang, tiket pulang akan dibayari pemerintah Jepang.”

“Tapi ada kemungkinan kamu dipenjara, tidak langsung dikirim pulang.“

„Tidak apa-apa. Penjara Jepang toh tidak buruk.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Kalau penjara pun dianggap baik olehnya, apa yang bisa kukatakan? Kami tinggal di negeri yang sama. Tapi kata-kata Nadri mengingatkanku bahwa dia berada di dunia yang lain. Tak patut bagiku untuk memaksakan cara pandangku padanya. Aku sama sekali tak mengenal dunianya.

Kata-kata Nadri yang terakhir itu kembali terngiang di telingaku. „Ki wo tsukete.“ Cuma itu yang bisa aku gumankan. Hati-hati, dik.

http://berbual.com

Salah satu kesenangan saya saat ini adalah melihat status teman-teman di dunia maya, baik di Facebook, Twitter, Plurk, maupun social media lain. Bangun tidur, saya cek ketiga social networking itu lewat mobile. Bahkan setiap ada kesempatan, saya ngecek sekaligus aktif ngeplurk, ngetwit, nge-FB. Dengan jumlah teman dan fans total di sekitar seribuan orang, time-line Plurk [...]

Minum Teh Yuk !

Suka minum teh nggak? Teh melati hangat adalah salah satu minuman favorit kami di rumah. Orang Indonesia pasti akrab dengan teh karena Indonesia adalah negara penghasil teh terbesar nomor lima di dunia. Di dekat rumah kami di kampung halaman ada banyak pabrik teh, kalau kita melewati jalan raya di sekitar pabrik…hmmmm baunya sungguh harum, aroma [...]

Hari Ahad kemarin (28 Juni 2009) komunitas Ubuntu di Palembang (SumSel) ketemuan lagi untuk belajar bareng bulanan. Materinya adalah pengenalan dan demo remote desktop di Ubuntu, yang dibawakan oleh Ridho Ashari.

Pada materi kemarin kita melihat ada berbagai macam cara dan tools yang dapat digunakan untuk melakukan remote desktop di/dari/dan ke Ubuntu, ada yang perlu diinstal dan ada yang sudah bawaan dari Ubuntu ketika instalasi awal.

Oh ya, bagi yang mau coba remote desktop di Ubuntu menggunakan fasilitas bawaan Ubuntu, bisa mencoba tutorial ini. Atau cari aja coba di Google dengan keyword “remote desktop ubuntu” D .

Terlampir foto-foto ketemuan kemarin

BelajarBarengBulanJuni09-1BelajarBarengBulanJuni09-2BelajarBarengBulanJuni09-3

—-

Fyi, untuk bulan depan kita ketemuan hari Minggu tanggal 26 Juli 2009 di Guyub.

Hari Minggu lalu, dengan semangat '45, kami sekeluarga berangkat menuju Pesta Buku Jakarta 2009 yang bertempat di Istora GBK Senayan. Di benak saya dan istri sudah terbayang beberapa buku yang nanti akan kami buru di sana – harapannya tentu dengan diskon yang menarik :-) Pokoknya mupeng mode is on bangetlah. Siap-siap berfoya-foya memborong, hehehe...

Tak lupa, menu incaran lain yang selalu menarik dikoleksi adalah buku-buku edukatif untuk balita kami. Pastinya akan ada banyak sekali pilihan di sana.

Jadi... memang benar banyak pilihan tidak? Benar kok, banyak! Buannyyaaakkk sekali malah. Namun bisa memilih dengan leluasa atau tidak, itu soal lain.

Bagaimana tidak, pameran buku yang di bayangan kami nggak akan jauh beda dengan Kompas Gramedia Fair di tempat yang sama akhir Januari lalu, ternyata tak ada mirip-miripnya. Lima bulan yang lalu kami bisa melihat-lihat buku dengan cukup nyaman. Hampir semua stand tuntas kami jelajahi dengan rileks. Kontras dengan suasana PBJ 2009 ini. Pengunjung berjubel penuh sesak. Ditambah dengan jumlah stand yang rasa-rasanya jauh lebih banyak, otomatis ruang gerak jadi sangat terbatas.

Boro-boro memilih buku dengan nyaman, untuk berjalan berkeliling saja sudah sumpek rasanya. Bermacam kertas dan brosur promosi berserakan menambah kesumpekan itu.

Akhirnya kami hanya bisa bertahan satu jam saja di sana. Keburu pusing dan capek. Tak ada buku target yang sempat terbeli :-( meski beberapa buku untuk anak masih bisa kami dapatkan.

Mungkin saja timing kami memang bertepatan dengan puncak keramaian pameran ini: hari Minggu, dalam liburan sekolah, pas setelah tanggal gajian pula.

Bukan berarti kami tidak merekomendasikan PBJ 2009 ini, lho. Bagi yang gemar membaca atau yang baru ingin gemar membaca (seperti kami), datang ke acara seperti ini tentu membangkitkan gairah berbelanja. Which is good and encouraged karena lapar matanya karena buku. Hanya saja kalau bisa, kali ini Si Kecil ditinggal saja deh di rumah, hihihi.

p.s. agenda ini ternyata punya situs juga lho. Monggo, klik di sini. Di salah satu foto yang terpampang di sana, you will see apa yang saya maksud dengan ‘berjubel penuh sesak’ :-)


Tenis dan Melenguh


Sharapova

Benar rupanya, tidak cuma saya yang “terusik” ketika menonton para petenis wanita bermain, terutama akhir-akhir ini. Yang mengusik adalah “lenguhan” yang muncul ketika petenis memukul bola. Ada yang nadanya tinggi, rendah, dan yang mengganggu tentu saja yang suara lenguhannya keras. Saya tidak tahu, itu tren tenis saat ini, atau karena faktor yang lain.

Yang jelas, saya seringkali tidak konsen karena lenguhan mereka kadang mengingatkan pada sesuatu. )

Saya termasuk yang menyesal terpisahnya SBY-JK. – SBY is on the right track – JK with more speed. Arah dan kecepatan itu perlu untuk maju. Sayapun hanya bisa bilang SBY sudah dalam track yang betul, walaupun dibilang ketinggalan dengan yang lain mungkin saja ada benarnya. Namun dalam situasi dunia yang makin ndak menentu seperti sekarang [...]

Older Posts »