Feed on
Posts

Bulan Maret ini genap tiga tahun saya tinggal di Permata Bintaro. Konon tiga tahun merupakan waktu yang ‘cukup’ untuk belajar pernak-pernik seputar rumah. Saya ingin sharing sedikit pengalaman saya mengenai kendala-kendala yang saya hadapi selama tiga tahun setup rumah. Inti pengalaman saya ini mengingatkan saya pada dua prinsip dasar ‘Pemeliharaan/perawatan itu jauh lebih pelik dibanding mendapatkannya’ dan ‘Semua ada siklusnya’

1. Tikus, nyamuk dan hewan-hewan lainnya.
Ini mungkin masalah terbesar yang sering saya alami selama tiga tahun terakhir. Tikus, Nyamuk, Semut dan hewan-hewan lainnya seperti Keluwing merupakan pengganggu terbesar di rumah. Karena sifatnya musiman, saya mulai terbiasa. Tikus muncul pada bulan-bulan tertentu, begitu juga Nyamuk yang intensitasnya menjadi tinggi saat musim panas tiba.

2. Assisten Rumah Tangga, Pembantu dan Pihak ketiga di rumah
Karena lifecycle Asisten Rumah Tangga sangat pendek, berbagai kendala yang tidak terhindari menjadi penyebabnya. Berbagai alternatif juga sudah di coba: Day care, Pembantu Harian

3. Elektronik, Motor AC lemah, Rice Cooker ga panas
AC yang saya pakai Panasonic 1/2 PK, belakangan saya baru tahu bahwa AC 1/2 PK itu merupakan produksi lokal -AC 3/4 PK konon produksi Jepang. Memiliki kualitas motor yang sangat buruk. Begitu juga beberapa Rice Cooker yang setali tiga uang, elemen pemanasnya seringkali putus.

4. Bocor di atap, bocor di dapur.
Kebocoran, merupakan salah satu siklus alam yang tidak bisa dihindari. Angin kencang membuat genteng yang tadinya rapat menjadi bergeser. Sedikit demi sedikit membuat rongga menjadi besar dan air hujan mulai merembes di plafon. Saluran pembuangan air di dapur kitchen set pun demikian, lem yang dipasang lama kelamaan menjadi melemah dan membuat air saluran meluber.

Pengalaman tiga tahun ini mengajarkan kepada saya bahwa mesti segala preventive maintenance dilakukan (pengecekan berkala, rajin bersih-bersih) dilakukan, ada kalanya kita harus mengeskalasi kepada pihak yang lebih ahli.


10 tahun yang lalu, waktu jaman esema, aku - manusia sakti tampan dari Gunung Huaguo Kapur nomor 16, Denpasar, Bali 80119 - pernah naik ke langit mengacau kahyangan. Tapi dasar sial, aku gagal! Apa pasal? Pasalnya adalah waktu pertapaanku ternyata belum cukup. Aku baru sempat bertapa selama 500 tahun (yeah, namanya aja eksekutif muda… Ya [...]


Menulis thesis, bukan sesuatu yang mudah. Namun sebagai tuntutan amanah akademis, menulis thesis (atau skripsi untuk S1 dan disertasi untuk S3), tentu membutuhkan persiapan-persiapan yang cukup. Beberapa pengalaman pribadi, rasanya cukup penting untuk di-share di sini. Tak lain dan tak bukan, semoga Sampeyan tidak mengulangi kesalahan yang pernah saya lakukan.


1. Time scheduling

Saya adalah orang yang biasa bekerja dengan target. Bukannya diperbudak target, tapi berusaha untuk konsisten pada diri sendiri itu ternyata tidak mudah, lho. Sampeyan mungkin bisa aja konsisten sama  orang tua Sampeyan, atau bahkan dosen Sampeyan. Tapi kalau sama diri sendiri? Beraat bung! Makanya, time scheduling itu penting, karena waktu itu adalah sesuatu yang mahal harganya, terutama kalau Sampeyan sudah mendekati batas waktu pengumpulan thesis. Sepertinya kita jadi tidak bisa diganggu gugat. Ditelepon nggak bisa, jarang online YM, Facebook ga pernah di-update, pokoknya thesis dan thesis. Sebenarnya yang kayak gitu bisa diakalin jika Sampeyan mau. Chattingan, mengerjakan thesis, nonton streaming film Korea atau Jepang di Youtube, semua bisa diatur, asal konsisten. Terus, gimana dong time scheduling yang baik?
Oke, MasDab. Ini dia beberapa langkah-langkahnya:

a. Mulailah dari tujuan akhir. Misal nich, Sampeyan pengin ngumpulin thesis bulan Maret 2010. Maka, letakkan Maret 2010 sebagai tujuan akhir. Kemudian, perjelas langkah-langkah menuju pengumpulan thesis, misalnya:

November-Desember 2009 : Studi literatur + pengumpulan bahan baku
Desember 2009-Januari 2010: Mulai nulis bab 1 dan bab 2
Januari-Februari 2010 : Melanjutkan bab 3 dan bab 4
Maret 2010 minggu I : Bab 5 (alias kesimpulan) dan print draft
Maret 2010 minggu II - minggu III : koreksi thesis oleh advisor
Maret 2010 minggu IV : finalisasi + kumpulkan thesis

Ok. Itu jadwal garis besarnya. Kemudian bisa di-break down lagi menjadi jadwal per minggu. Dan yang terpenting, sebenarnya jadwal setiap harinya. Aktivitas Sampeyan harus benar-benar tertib sesuai dengan yang Sampeyan rancang.Insya Allah, semuanya bakalan kebagian tempat. Kata orang, “Orang sibuk itu biasanya orang yang menghargai waktu”. Sibuk yang bener maksudnya, kalau sibuk ngegosip yo sami mawon ……

2. Tentukan judul thesis
Saya rasa untuk yang satu ini menjadi hak prerogratif Sampeyan dan dosen pembimbing Sampeyan. Judul ini gampang-gampang susah. Tapi kalau Sampeyan sudah membicarakannya secara baik-baik (bukan dengan cara kekerasan) dengan pembimbing Sampeyan, pasti judul ini disetujui. Jika Sampeyan harus melewati presentasi proposal, maka menentukan judul thesis menjadi sebuah proses yang cukup memakan waktu. Tapi yakinlah, semakin banyak masukan (asal nggak ngawur), tentu semakin baik

3. Membuat outline thesis
Outline thesis semacam garis-garis besar halauan thesis Sampeyan. Intinya, buat poin-poin konten yang akan Sampeyan bahas di thesis sampeyan. Setelah itu, tunjukkan ke dosen Sampeyan. Biasanya dia akan memberi respon. Kemudian, dari poin-poin tadi, kita mulai merancang bahan baku yang dibutuhkan untuk “mengisi” poin-poin tersebut.

Contoh:
Chapter I : Introduction. Bahan baku: contoh thesis tahun kemaren.
Chapter II : Literature Reviews. Bahan baku: jurnal (a, b, c…….), buku (1, 2, 3……), dst.

Intinya, tahapan pengumpulan bahan baku ini harus sudah dipikirkan semenjak pembuatan outline. Jangan kayak saya, setelah ngetik, baru ketahuan bahan bakunya apa………

4. Mengumpulkan bahan baku
Oke. Setelah bahan baku terkumpul, Sampeyan perlu memanajemen bahan-bahan itu. Supaya Sampeyan gak pusing, silahkan Sampeyan pakai EndNote atau software manajemen referensi lainnya. Apa itu EndNote? Jawabannya bisa Sampeyan search di blog saya atau klik di sini. Masukkan satu per satu referensi Sampeyan ke EndNote, selengkap-lengkapnya. Jangan lupa attach pula file PDF jurnal atau paper yang sampeyan butuhkan di thesis ke dalam EndNote. Biar ga lupa aja lokasinya. Jangan kayak saya (lagi), yang selalu malas meng-attach file PDF dan sibuk mencari-cari file dalam ratusan folder data. Oya, pastikan Sampeyan membuat satu sub-folder di dalam folder induk thesis Sampeyan dengan judul “REFERENSI”. Ini memudahkan Sampeyan untuk mengatur paper-paper, ebook, dan semua artikel yang akan menjadi referensi thesis Sampeyan.

5. Drafting
Pada tahapan ini, yang sering saya jumpai adalah MALAS. Malas untuk memulai dan selalu menunda pekerjaan. Saya pun mengalaminya sedemikian rupa, sehingga memerlukan tips khusus untuk bisa segera mulai. Bagaimana caranya? Gampang bos. Coba lihat rekan-rekan Sampeyan yang sudah lulus dan bayangkan jika itu terjadi pada Sampeyan. Tips ini cukup ampuh buat saya. Sembari browsing data di internet, saya mencoba “mengambil inspirasi” dari rekan-rekan yang sudah menyelesaikan studi dan berkutat dengan aktivitas baru mereka. Rasanya kok “menyenangkan” sekali dan dari sanalah saya menemukan tenaga untuk menulis.

Menulis bukan sesuatu yang mudah, MasDab. Percaya deh. Sepandai apapun Sampeyan, jika Sampeyan tidak pernah latihan menulis, apalagi kok menulis ilmiah, wow……sulit, MasDab. Tapi nasi sudah keburu jadi bubur. Beri kecap dan kacang aja sekalian. Sampeyan sudah terlanjur berada di akhri masa studi dan kini Sampeyan mau tidak mau harus menulis. Tidak ada lagi “latihan menulis”, karena Sampeyan tak pernah memikirkan pentingnya latihan menulis.

Lalu, apa yang harus Sampeyan lakukan?

Untuk memberi inspirasi, Sampeyan bisa melihat gaya menulis dari para pengarang jurnal atau buku yang sesuai dengan bidang Sampeyan. Contek saja dulu mentah-mentah. Kemudian ubah kalimat-kalimat itu dengan cara bertutur Sampeyan. Ada beberapa vocab menarik yang nantinya akan Sampeyan dapatkan dari sana. Nah, vocab-vocab “keren” inilah yang akan menjadi modal Sampeyan menapaki halaman demi halaman selanjutnya. Untuk tahap yang satu ini, saya sarankan Sampeyan meng-install kamus bahasa Inggris-Indonesia/Indonesia-Inggris, serta Inggris-Inggris (Thesaurus). Kamus thesaurus akan membantu Sampeyan “bersilat keyboard” supaya tulisan Sampeyan nggak basi karena vocab-nya monoton.

6. Editing
Wah, ini bagian terberat, MasDab. Editing ini meliputi segala sesuatunya:
- grammar atau tata bahasa
- ketepatan penulisan
- kutipan gambar dan tabel
- persamaan
- hasil percobaan
de-el-el

Saya sendiri, sampai saat ini masih mempercayakan jasa naskah hard copy karena lebih akurat untuk melakukan penyuntingan. Untuk tahap yang satu ini, Sampeyan seyogyanya meminta bantuan  rekan atau dosen untuk mengoreksi naskah Sampeyan.

7. Submit thesis
Yah, tahapan terakhir yang menyenangkan. Eits, jangan lupa check list yang diperlukan. Perlukah naskah Sampeyan di-print berwarna, atau cukup hitam dan putih? Semua harus dipastikan, MasDab. Setelah submit thesis, Sampeyan tentu tinggal memikirkan ujian + revisi.

Kehadiran film atau novel yang bercerita tentang anak muda islami yang inspiratif semacam Ayat-ayat Cinta, Perempuan Bekalung Sorban, dan Ketika Cinta Bertasbih 1&2 memang sangat menarik di tengah euforia serbuan film-film barat yang lebih memperlihatkan gaya hidup west-style yang bebas dan sangat liberal. Namun, mayoritas film dan novel islami tersebut bercerita tentang kehidupan anak-anak muda di negara yang di mana islam menjadi agama mayoritas dipeluk oleh warga negara itu. Ambillah contoh misalnya film/novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 yang lebih mengambil latar cerita kehidupan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu agama di Universitas Al Azhar, Mesir, atau bahkan cerita film/novel Perempuan Berkalung Sorban yang menuai banyak kontroversi tersebut mengambil latar di sebuah pesantren di Jawa Timur, pun demikian dengan film/novel Ketika Cinta Bertasbih 2 yang hampir senada mengambil latar di pesantren daerah Surakarta, Jawa Tengah.

Mungkin akan menjadi berbeda jikalau ada film/novel anak muda yg islami dan inspiratif namun terjadi di negara yang di mana agama Islam menjadi minoritas atau bahkan dicap sebagai agama teroris. Saya membayangkan cerita film/novel tersebut sebagai berikut:

Seorang pemuda yang mempunyai dasar keislaman yang kuat  dan kecerdasan yang tinggi kemudian memutuskan untuk menekuni bidang keilmuan Nanotechnology, dia terinspirasi akan kejayaan ilmuwan Islam di jaman para Khalifah. Kemudian pemuda itu berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan lajut di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Selama menempuh studi di negara adidaya itu dia senantiasa menjalankan ibadahnya dan menjaga ruhiyahnya. Terkadang dia menjalankan shalatnya di pojok perpustakaan, atau bahkan di pojok laboratorium tempat dia melakukan riset. Tak selamanya dia mulus bisa menjalankan ibadahnya, terkadang dia dianggap mahasiswa aneh ketika menjalankan shalat di pojok perpustakaan, bahkan terkadang dilarang melakukan shalat di dalam gedung perpustakaan oleh pustakawan di sana.

Tak segan baginya untuk membuka identitasnya sebagai seorang muslim di hadapan teman-temannya sesama mahasiswa, bahkan di hadapan Supervisor risetnya dia mengaku sebagai seorang pemeluk agama Islam. Namun karena tingkah lakunya yang santun, menyenangkan bagi orang lain dan juga kecerdasannya yang diakui oleh koleganya, membuat dia tidak pernah terkucilkan selama berada di sana dan bahkan membuat orang lain sadar bahwa Islam adalah agama yang penuh kesantunan, sehingga menghapus image Islam sebagai agama teroris.

Kesuksesannya dalam menjaga agamanya juga diikuti dengan kesuksesannya dalam studi, penelitiannya dalam bidang nanotechnology telah menghasilkan berbagai paper jurnal internasional dan meraih berbagai penghargaan sebagai best research…..

Kira-kira begitulah cerita inspiratif yang saya harapkan akan muncul dari tangan-tangan penulis Indonesia, sayangnya saya bukan seorang penulis atau yang punya bakat menulis novel hehe…jadinya cuman bisa membayangkan dan mengharapkan. Saya pikir film/novel seperti itu akan membangkitkan antusias pemuda dan pemudi Indonesia agar bersemangat dalam mempelajari science dan technology untuk mengejar ketertinggalan negara kita dengan negara tetangga. Selain itu untuk selalu meletakkan dasar-dasar keislaman kita di manapun dan jalan hidup apapun yang akan kita tempuh.


http://mp3dl.co.cc/play.php?src=4shared&id=128844324&x=13f85671&name=Iwan%20Fals-Kantata%20takwa%20-%20Sang%20Petualang

Sang Petualang JATUH terkulai! Tapi inspirasi semangatnya bagai MATAHARI.

Seorang Dokter Bedah Brilyant yang begitu mashyur dan dermawan. Konon khabarnya seorang athies sejati yang tidak membutuhkan Tuhan. Pisau bedah di tanganya dipercaya lebih perkasa memotong kuku-2 tajam malaikat pencabut nyawa. Sobekan pisau bedahnya lebih cepat dari kecepatan malaikat dalam mencabut nyawa.

Hanya diantara pisau-2 bedah yang penuh perhitungan dingin, terlihat sang Dokter selalu menyelinap menyendiri dalam diam. Dengan beban hasrat ingin tahu, para stafnya amati apa yang dilakukan sang Dokter. Terperangah! Ternyata sang Dokter sedang tertunduk sujud berdoa. Terheran semua bertanya; „Kenapa dan untuk apa seorang atheis perlu berdoa?“

Jawabnya: “Aku memang (pernah mejadi) athies. Hanya menjadi seorang atheis membuatku tidak bisa berdoa. Sementara aku butuh berdoa untuk seorang Petualang SUFI yang memberi semangat seperti Matahari”.

Kala itu dalam kemiskinanku berkutat dengan buku, bersahabatlah aku dengan Matahari. Sebuah persahabatan dalam diam yang kebak dialog akan jati diri penuh intimasi. Saat ku memaki tanpa asa. Sang Matahari dalam diam mengajari aku:”bekerja untuk mengisi hari-2 menjadi bermakna, bukan mengisi hari-2 bermakna ini hanya untuk kerja!”

Matahari itu bukan lah sosok phisik perkasa. Matahari itu hanya seorang kuli angkut tua dalam kemiskinan yang lebih pekat tanpa serapah. Tersenyum dalam beban bagai menerima anugerah. Seluruh beban yang diterimanya selalu dipersembahkan dalam sujud doanya. Beban luka itu adalah sejatinya persembahan tertinggi sang kuli tua pada Junjungan-nya yang membuat kerja hari ini menjadi bermakna.

Dalam harapan kelelahan amat sangat, dikumpulkan keping-2 sen atas jerih payah sepanjang harinya. Dalam diam dicitakan untuk membeli sebuah gerobak tua. Untuk membantu tubuhnya yang tua renta agar sanggup mengangkat beban lebih banyak. Sang kuli tua menabung untuk sebuah gerobak. Gerobak yang merupakan harapan akan hidup yang lebih baik.

Hari itu semua keping sen-nya terkumpul di tangan dan cukup ditukarkan untuk gerobak tua. Kuli tua renta bersiap menyambut harapan. Senyum sumringahnya bertemu dengan kakunya wajahku dalam putus asa. Hari itu juga, adalah hari pembuktianku apakah aku layak menjadi seorang Dokter. Aku putus asa bukan atas nama pengetahuanku. Aku putus asa karena kemiskinan ini akan menghentikan langkahku.

Atas nama kapitalis maka pembuktianku sebagai seorang yang layak menyandang Diploma Medikus harus disyarati oleh biaya. Biaya yang akan digunakan untuk mensubsidi universitas angkuh yang telah begitu kaya. Membiayai kebesaran atribut para guru besarnya.

Si kuli tua tersenyum melihat ku putus asa. Semua uang dalam kantong kusamnya diserahkan padaku. Lembut katanya, dia bekerja kumpulkan uang itu memang disiapkan untuk membiayai ujian akhirku. „Ambilah uang ini, jika kamu jadi dokter kamu akan jadi Matahari yang bisa menerangi mereka yang sakit yang membutuhkan tangan dinginmu“. Dan ini adalah kalimat terpanjangnya yang pernah kudengar saat bersahabat dengannya.

Suka cita! Kusiapkan perjalanan akhir untuk ujian Diploma Medis-ku. 40 hari, 40 malam berpisah dengan sahabat tua membuat hasratku membucah di dada. Ingin kukatakan padanya bahwa aku tidak menyia-nyiakan pengorbanannya. Aku lulus dengan Predikat terbaik bahkan Tuhan pun tidak sanggup memberi pertanyaan sulit padaku!

Sambutan sahabat tuaku atas keberhasilanku benar-2 tidak kuduga. Begitu dingin, diam dan amat menyakitkan! Membuatkan mengeluarkan air mata. Dia menyambutku dalam bongkahan sebuah batu diatas sebidang tanah yang masih basah, yang namanya pun tidak tercoretkan disana. Tanpa bunga, tanpa upacara penghormatan, tiada yang peduli padanya. Kecuali tanah yang selalu rendah hati terbuka menyambut jasadnya.

Aku menangis. Aku tahu, aku sama sekali tidak mampu membalas segala yang telah dikorbankannya untukku. Rasa sesal tidak mempu membalas pengorbanan itu ternyata menghantuiku. Akhirnya, satu-2nya cara untuk membalas semua pengorbanannya, kuputuskan untuk mendoakannya. Hari-2nya sang kuli tua selalu diisi dengan berdoa. Dengan mendoakannya pulalah, kuharap aku bisa membayar semua kebaikannya…

Itulah yang menjadikanku akhirnya tertunduk sujud 5 kali dalam doaku. Doa buat sang Matahari…

Shubuh dini hari, 8 März 2010
Dari Tepian Lembah Sungai Elbe – Hamburg

Ferizal Ramli


Senja di Larea Rea

Larea-rea merupakan nama pelabuhan kecil di kabupaten Sinjai, kabupaten paling selatan di pulau Sulawesi. Lareang-reang bukan merupakan pelabuhan yang besar, bahkan boleh dikatakan sebagai pelabuhan yang terbengkalai. (Pelabuhan Larea-rea yang sepi) Pelabuhan Larea-rea hanya dikunjungi oleh kapal-kapal kayu yang rata-rata mengangkut beras untuk dibawa ke Sumbawa dan kapal pengangkut batu besi yang akan dibawa ke Cina. Berhubung [...]
Dear kawan, Kemarin aku mendapat pertanyaan dari seorang teman melalui e-mail tentang aspartam. Aku kutipkan sesuai aslinya : Selamat malam, aku merasa penasaran atas “tumbang”nya beberapa teman yg mengkonsumsi minuman kesehatan yg ternyata menggunakan ASPARTAM. Ada kemudian muncul selebaran daftar makanan dan minuman yg menggunakan bahan tersebut. Mulai dari extrajoss,kiranti, dlsb. Yg menjadi pertanyaan, sampai seberapa amankah [...]

Little india merupakan sebuah perkambungan yang dihuni oleh kebanyakan keturunan India, di Singapura. Sebuah kawasan yang begitu kental dengan budaya India. Serangon Road adalah jalan utama yang ada di kawasan tersebut. Menjadi salah satu jantung perekonomian di Little India.


Malam itu adalah malam terakhir saya di Singapura. Beberapa hari saya tinggal di sebuah hostel di kawasan ini. Relatif murah dengan banyak pilihan tempat makanan dengan harga terjangkau. Setelah selesai mengikuti semua acara Singapore International Photography Festival (SIPF) 2008, saya ingin sekali jalan-jalan dan mengambil beberapa foto. Menyusuri jalan di Serangon Road yang penuh dengan nuansa Deepavali atau juga dikenal dengan Festival of Lights. Sekitar tiga jam saya menikmati jalanan yang eksotis ini. Ditemani artis-artis Bollywood, dan  tidak ketinggalan Shah Rukh Khan serta Kajol tentunya. Menikmati malam, memanjakan rasa juga mata. Dan berharap anda turut menikmatinya.


Oh ya, hampir lupa. Pada pertemuan rahasia yang tidak disengaja itu, Kajoel berbisik kepada saya, Ab jaan loot jaaye..… Yeh jahan choot jaaye..…….Sang pyar rahe main rahoon na rahoon”, sambil tersenyum tipis sedikit pilu dan segera berlalu. Tak sempat saya membalasnya, hanya berkata dalam hati, “Nainon ke teer chal gaye ”. Duhhh Kajooeellll………




©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

©ahmad zamroni

Hari Jumat yang lalu, saya berkesempatan ke kantor UPT Gudang Farmasi Kab. Sleman untuk mengantar update SIM (Sistem Informasi Manajemen) Gudang Farmasi. Di sana, saya bertemu dengan Mas Ari, staf baru UPT Gudang Farmasi Sleman. Oleh Mbak Winarti, kepala UPT Gudang Farmasi, saya diminta menjelaskan cara penggunaan SIM Gudang Farmasi pada Mas Ari, yang akan membantu mengoperasikan SIM tersebut sehari2nya. Pada Mas Ari, saya mengawali penjelasan saya tentang sejarah perubahan2 pada SIM Gudang Farmasi, dan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan singkat tentang cara penggunaannya. Sejenak saya sadar, bahwa sudah kira2 5 tahun lamanya, SIM Gudang Farmasi itu bertengger di komputer itu, menerima data, dan membantu staf di kantor itu untuk mengambil keputusan serta membuat laporan.

5 tahun yang lalu, hingga sekarang..

Kira2 5 tahun yang lalu, saya bertemu dengan Ibu Hening (yang akrab saya sapa Bu Ning), kepala Gudang Farmasi saat itu (waktu itu belum UPT) dan Mbak Utami untuk menjelaskan cara penggunaan SIM Gudang Farmasi dan mendiskusikan beberapa aspek teknis. Sebelum itu, mereka mengandalkan catatan pada kartu stok sepenuhnya, sehingga cukup merepotkan bagi mereka setiap kali butuh menyusun laporan. Saya masih ingat benar, salah satu yang diharapkan Bu Ning dari saya adalah, agar saya terus mendampingi mereka, terutama untuk membantu mereka lagi bila ada kebutuhan2 baru atau muncul masalah2 kecil pada SIM Gudang Farmasi. Saya menjanjikan akan terus mendampingi mereka untuk memberikan bantuan bila diperlukan.

Saat itu, jumlah laporan yang dihasilkan oleh SIM Gudang Farmasi tidak lebih dari 10 macam saja. Seiring dengan berjalannya waktu, kebutuhan bertambah. Jumlah laporan yang dihasilkan sudah bertambah menjadi lebih dari 20 macam. Laporan2 yang pada awalnya sekedar memenuhi kebutuhan formal, untuk laporan ke pihak lain, terutama Dinas Kesehatan Kabupaten, terus dikembangkan hingga mencakup pula laporan2 yang membantu mereka untuk memutuskan sesuatu.

Saatnya berubah

Aplikasi yang tadinya sederhana saja, terus berkembang menjadi sesuatu yang makin rumit, karena ditambah dan ditambal sana sini. Sampai pada suatu ketika, saya melihat bahwa aplikasi ini perlu didesain dan ditulis ulang, untuk mencakup semua fitur yang sudah ada, plus beberapa fitur baru, sekaligus untuk mengefisienkan kerja program, dengan jumlah data yang sudah sekian banyak. Ternyata staf Gudang Farmasi juga berpandangan serupa, sehingga kami akhirnya duduk bersama, membicarakan apa yang akan ditambah pada SIM Gudang Farmasi yang baru nanti.

Saat ini SIM Gudang Farmasi sudah beralih rupa, beberapa hal yang dulu sulit dicapai dengan framework yang lama (saat itu menggunakan patTemplate, sekarang menggunakan CakePHP), sekarang sudah disediakan. Fitur2 baru juga sudah ditambahkan. Data dari SIM yang lama sudah dikonversi untuk bisa masuk dalam SIM yang baru.

Beberapa catatan..

Dari 5 tahun perjalanan ini, ada hal yang cukup membuat saya bangga. Beberapa kali ada kunjungan dari daerah lain untuk “mengintip” aplikasi buatan saya itu. Bahkan SIM Gudang Farmasi itu pernah diminta kopinya oleh seorang konsultan WHO dari Australia (yang untungnya oleh staf Gudang Farmasi dilarang, dan ini didukung pula oleh Kadinkes Sleman saat itu). Saya tidak menyangka, aplikasi yang sederhana itu dilirik dan dianggap baik oleh pihak2 lain :)

Satu kata penting yang bisa saya tarik dari pengalaman 5 tahun ini adalah, komitmen. Tentu saja komitmen pengembang aplikasi (dalam hal ini saya) penting. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah komitmen dari pihak Gudang Farmasi yang didukung pula oleh Dinkes Sleman. Staf Gudang Farmasi selalu setia memberi masukan mengenai hal2 yang penting untuk diperbaiki dan ditambahkan. Kerjasama yang lama ini terus terjalin karena komitmen dari kedua pihak untuk terus memberikan yang terbaik. Saya senang, karena hingga saat ini saya masih bisa memenuhi harapan Bu Ning (yang tahun depan akan memasuki masa pensiun).

Ada beberapa hal yang masih menjadi impian kami untuk diwujudkan, yang selama ini masih sulit diwujudkan karena terkait pihak2 lain. Pertama, mengatur jadwal pengambilan obat dari puskesmas, agar pendataan pengeluaran obat bisa teratur juga. Kedua, membuat agar pelaporan dari pihak puskesmas bisa dilakukan secara digital, sehingga staf Gudang Farmasi tidak perlu menginput ulang laporan dari kertas (dari Puskesmas), ini untuk menekan kesalahan input dan tentu saja untuk mengurangi beban kerja mereka.

Saya berharap, suatu ketika impian2 ini bisa terwujud.

Menikmati Aneka Masakan Ikan Tuna di Warung Hercules Warung makan Hercules,  Pogung Kidul No 8 RT 04/ RW 49, Yogyakarta, telpon 0274-544034 Senin 1 Maret 2010, sayadan Ibunya Afa diundang oleh sahabat saya Indra Novian untuk makan siang di warung makan Hercules. Indra Novian merupakan adik kelas saya dan sekarang menjadi dosen di Teknik Geologi [...]

Older Posts »