Berita di Era Social Media: Apa yang Harus Dilakukan Reporter dan Apa yang Perlu Disadari Narasumber
Feb 9th, 2010 by ismujiarso
Agregasi Blog alumni UGM
Feb 9th, 2010 by ismujiarso
Feb 9th, 2010 by roni
Islamic Relief is celebrating 25 years as one of the UKs leading charities. The charity has been at the forefront of a worldwide charity disaster response, co-ordinate via 27 field offices around the world.
As a celebration of our commitment to humanity we are undertaking a worldwide photo competition. Islamic Relief hopes by organizing such an event and endorsing the work not only with its own name but that of 4 prestigious photo judges from the field of documentary photography, wildlife photography and travel photography it will be able to take part in organizing a platform for the world’s talented photographers to show their work.
There will be 4 themes to choose from as well as a kids photo competition, allowing all photographers to show their creativity in which ever field of photography they prefer. Through their photographs we hope to have a selection of images that will show aspects of the human condition, culture and tradition, landscape and climate.
All winning photographers will receive a cash prize. The top five photographers for each of the themes will receive a print of their photo (photos) framed, as well as a certificate of their achievement.
The photos will appear on our Flickr site as well as Islamic Relief site until the wining images have been chosen. Winning images will then be displayed in photo exhibitions, photo journals and web sites etc. around the world.
There are is no fee for entering; we only ask that you agree to our terms and conditions in the link below. We will then send you an email which will give you a reference number and a further email address to send your images.
Closing date: 15th October 2010.
I want to participate in the competition follow us on Twitter @irphotography
Feb 9th, 2010 by roni
Seiring dengan perkembangan pembangunan jalan tol di Indonesia, yang telah mencapai 32 tahun sejak dioperasikannya jalan tol pertama, yaitu Jalan Tol Jagorawi, pada tanggal 1 Maret 1978. Jalan tol telah menjadi bagian dari keseharian pengguna jalan tol, yang menggunakan jasa jalan tol sebagai salah satu alternatif mencapai tujuan perjalanan.
Sejalan dengan Visi PT Jasa Marga untuk menjadi leader dalam industri jalan tol di Indonesia, salah satunya dengan terus membangun jalan tol baru. PT Jasa Marga juga harus dibangun menjadi perusahaan yang dapat memenuhi persyaratan dan harapan pengguna jalan tol sebagai pelanggan, salah satunya dengan memberikan rasa aman dalam berkendara di jalan tol.
Sejalan dengan program Pemerintah untuk menggalakkan penghijauan, Jasa Marga selama ini telah melakukan penanaman pohon dan beautifikasi di ruas-ruas jalan tol, yang juga merupakan bagian dari pelayanan kepada pengguna jalan dalam menyediakan jalan tol yang indah dan asri.
-Mempublikasikan perkembangan PT Jasa Marga dan jalan tol di Indonesia yang saat ini sudah mencapai usia 32 tahun.
-Memberikan kesempatan kepada masyarakat / seluruh stakeholders PT Jasa Marga, untuk memberikan opini maupun pemahamannya tentang keselamatan di jalan tol dan penghijauan di jalan tol.
-Mengetahui persyaratan dan harapan masyarakat tentang pengertian keselamatan di jalan tol (baik pembangunan proyek, pengoperasian maupun pemeliharaan) serta penghijauan di jalan tol.
-Memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap dunia fotografi, yang dapat mendukung citra positif bagi perusahaan.
Lomba Foto HUT Jasa Marga ke 32
1.Keselamatan (safety) di jalan tol.
Gambaran tentang tema :
2.Penghijauan di jalan tol.
Gambaran tentang tema :
Identitas Peserta Lomba dalam badan berita e-mail :
1.Estetika foto (Keindahan foto secara visual) 40 %
2.Kesesuaian dengan tema (Foto sesuai untuk menjelaskan safety atau penghijauan jalan tol) 30 %
3.Tingkat kesulitan (Kondisi pengambilan foto) 30 %
1. Arbain Rambey – Kompas.
2. Haryanto – Media Indonesia.
3. Purwadi Andandiyanto – Direktur Utama PT JLJ.
· Juara 1 : Rp.10.000.000,-
· Juara 2 : Rp.7.500.000,-
· Juara 3 : Rp.5.000.000,-
· Hadiah hiburan untuk 10 foto terpilih : @ Rp 500.000,-
· Jalan Tol Cawang – Tomang – Cengkareng : (021) 8088 0123
· Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta : (021) 8088 0123
· Jalan Tol Jagorawi : (021) 8088 0123
· Jalan Tol Jakarta – Cikampek : (021) 8088 0123
· Jalan Tol Jakarta – Tangerang : (021) 8088 0123
· Jalan Tol Purwakarta – Bandung – Cileunyi : (021) 8088 0123
· Jalan Tol Palimanan – Kanci : (0231) 484 268 # 103
· Jalan Tol Semarang : (024) 760 7777
· Jalan Tol Surabaya – Gempol : (031) 562 4444
· Jalan Tol Belawan – Medan – Tj. Morawa : (061) 661 1055 # 16
Informasi lebih lanjut mengenai lomba dapat dimintakan melalui e-mail, dengan alamat : lombafoto@jasamarga.co.id.
Feb 8th, 2010 by sulastama
Feb 8th, 2010 by Nukman Luthfie
Hari ini saya membaca berita menyedihkan di Detik.com mengenai gadis cantik yang hilang dan orang tuanya menduga anaknya diculik setelah janjian di Facebook. Hari ini juga, koran Kompas menulis sebuah artikel betapa rentannya anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di dunia maya. Sepekan lalu, pelacuran ABG Indonesia melalui Facebook terbongkar. Setahun lalu, saya menonton Oprah Show yang membahas khusus betapa para pedofili memanfaatkan Facebook untuk mencari korbannya yang masih anak-anak. Melihat perkembangan akhir-akhir, tren negatif jejaring sosial itu kian menyeruak. Memang manfaat positif media sosial ini sangat banyak. Namun kita tidak dapat menutup mata terhadap dampak negatifnya.
Facebook menyediakan data yang berlimpah bagi orang yang berniat tidak baik. Data itu antara lain nama, alamat, pendidikan, pekerjaan dan data demografis lainnya, serta hobi dan kecenderungan lainnya. Dengan mempelajari profil di Facebook, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas terhadap seseorang.
Kecuali data, Facebook dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk berinteraksi, mulai dari email, berbagi foto, bahkan hingga chat.
Perpaduan kelimpahan data dan fasilitas interaktif itu sangat mempermudah orang menjalin hubungan dengan orang lain (yang bahkan sebelumnya dianggap sebagai orang asing sekali pun).
Anak-anak yang masih polos, akan lebih mudah tertipu oleh kalimat-kalimat manis dibanding mereka yang sudah dewasa. Anak-anak yang biasanya tanpa prasangka buruk, lebih mudah terjebak untuk berkomunikasi dan menjalin keakraban jika terus menerus diajak berkomunikasi dengan berbagai fasilitas di Facebook. Tidak mengherankan jika para penggemar sex dengan anak-anak di Amerika Serikat mencari korban via Facebook. Jangan-jangan, fenomena ini juga sudah merambah ke Indonesia.
Dengan fiturnya yang memberi dampak luar biasa itulah Facebook jelas-jelas mengharamkan Facebook bagi anak-anak. Saya kutipkan aturan Facebook tersebut di sini:
No information from children under age 13. If you are under age 13, please do not attempt to register for Facebook or provide any personal information about yourself to us. If we learn that we have collected personal information from a child under age 13, we will delete that information as quickly as possible.
Aturan tersebut jelas-jelas menunjukkan bahwa Facebook bukan untuk anak-anak. Demikian pula jejaring sosial lain yang sejenis seperti Friendster atau MySpace.

Namun, banyak anak-anak Indonesia di bawah 13 tahun yang menjadi anggota Facebook, bahkan dengan sepengatahuan orang tuanya. Sebagian orang tua tersebut malah bangga anaknya punya akun di Facebook. Hari ini saya mengecek Facebook dan mendapatkan fakta bahwa dari 17,6 juta pemilik akun asal Indonesia, 360 ribu diantaranya berumur 13 tahun. Saya yakin, yang kurang dari 13 tahun mengaku berumur 13 saat membuat akun tersebut.
Bagi orang tua, saya sarankan untuk segera menghindarkan anak-anaknya yang belum berumur 13 tahun dari Facebook dan jejaring sosial sejenis. Memang banyak game-game menarik di Facebook yang bisa menggoda anak-anak. Namun tetap saja hindari. Masih banyak game lain yang menarik dan bisa dimainkan tanpa harus jadi anggota Facebook.
Bahkan untuk remaja yang sudah berhak membuka akun di Facebook pun, perlu mendapat perhatian dari orang tuanya. Bertemanlah dengan mereka di Facebook dan jejaring sosial lain, kenali teman-temannya, jadi sahabatnya di dunia maya, sehingga orang tua mengenal betul dengan siapa anaknya berteman di jagad maya ini.
Para orang tua, waspadalah, dan pelajarilah secara mendalam soal media sosial ini demi masa depan anak-anak.
Feb 8th, 2010 by eshape waskita

Feb 7th, 2010 by roni
Indonesian Festival Pesta Rakyat 2009 is held in the Southbank Parklands on 26 September 2009. Indonesian Festival is an exciting and colourful festival, filled with unique, attractive, and cultural Indonesian entertainment. There were Indonesian traditional and modern art performance which includes music, band, dance and fashion shows.
Hold your breath for the Saman Dance, a dance of thousand hands performed by 15 to 20 dancers or be captivated by the authentic and beautiful Indonesian traditional clothing in the fashion show

Mengunjungi Tana Toraja yang memiliki beragam tradisi dan alam pegunungan yang elok, terasa belum lengkap apabila tidak melihat dari dekat kehidupan serta keramahan masyarakatnya. Itulah yang menjadi alasan kami berdua mengunjungi Ma’dong.
Dari Rantepao, dengan mengendarai ojek saya menuju Ma’dong. Kondisi jalan yang separuh beraspal dan separuh tanah berbatu serasa menambah keasikan tersendiri perjalanan ini. Beruntung cuaca sangat cerah karena jika hujan tentu jalan tanah dan berbatu serta menanjak yang saya lalui akan sulit dilintasi. Setelah 2 jam perjalanan dan menempuh sekitar 35 kilometer akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
Ma’dong (baca:makdong) adalah nama sebuah desa atau istilah lokalnya lembang yang terletak di Kecamatan Rantetayo, Kabupaten Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Tepatnya di sebelah barat Rantepao, di kaki Gunung Napo yang mempunyai ketinggian 1578m diatas permukaan air laut.
Nama Ma’dong sendiri diambil dari nama rumah tongkonan keluarga Ma’dong yang masih kokoh berdiri. “Tongkonan ini telah didiami oleh sepuluh keturunan,” begitu tutur Nenek Ratu Dattu dalam bahasa Toraja. Wanita yang berusia lebih dari 70 tahun ini pernah tinggal di tongkonan Ma’dong, namun sekarang tongkonan ini ditempati oleh keponakannya, Merre Tulak.
Memang, dibanding denangan tongkonan lain, tongkonan Ma’dong terlihat tua dengan kayu-kayu yang mulai kusam termakan umur dan ukir-ukiran yang mulai pudar warnanya. Disamping kiri, terlihat tanduk kerbau yang berjejer rapi lebih dari 150 tanduk, yang menandakan banyaknya acara ma’tinggoro tedong (memotong kerbau) yang diadakan oleh keluarga ini.
Lembang Ma’dong memiliki kondisi alam yang berbukit-bukit dan tanah yang subur. Sawah-sawah yang menguning, berundak-undak, indah sejauh mata memandang. Maka tidak heran jika mata pencairan penduduk Ma’dong sebagian besar dari bidang pertanian. Beruntung saya datang di bulan Juli yang merupakan musim panen. Sehingga saya bisa melihat dari dekat masyarakat Ma’dong ma’pare (memanen padi). Ma’pare dilakukan secara berkelompok oleh warga yang berasal dari lingkungan rumah dan sekitarnya. Dari hasil ma’pare tersebut mereka diberi imbalan 20 % dari hasil yang didapat. Misalnya jika mampu memanen 100 ikat, maka mereka diberi 20 ikat per kelompok. Hasil tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan kelompok atau untuk keperluan Lembang.

Panen

Membuat Tikar

Nenek Ratte merupakan orang tertua di Lembang ini.

Tuyuh
Tikar-tikar tersebut dibuat dari tuyuh, yang merupakan batang tumbuhan air yang ditanam di sawah. Setelah mencapai tinggi sekitar 1 meter maka tuyuh dipanen. Setelah dipotong, kemudian diberi serbuk kapur secara merata, batang tuyuh dikeringkan dengan cara dijemur. Pemberian serbuk kapur ini dimaksudkan untuk mempercepat proses pengeringan dan juga membuat tikar tahan lama. Lama pengeringan tergantung dari kondisi cuaca. Jika matahari sangat terik hanya dibutuhkan waktu dua jam tapi bila agak mendung bisa sehari. Sedangkan untuk proses pewarnaan tuyuh, mereka mencelupkan terlebih dahulu dengan zat pewarna yang dibuat dari ekstrak daun-daunan maupun kayu-kayuan.
Sore merambat menjelang malam dan saya kembali ke rumah tongkonan Helena Tulek, tempat saya menginap. Dan terlelap bersama sejuk dingin pegunungan Tana Toraja. Laksana air conditioner raksasa.
Rumah Tongkonan sendiri secara umum terbagi dalam tiga ruangan yaitu ruang paling depan disebut palluang, digunakan untuk menerima tamu. Bagian tengah disebut salli yang digunakan untuk bercengkerama dengan seluruh kelurga, dan bagian belakang, disebut sumbung, ruangan ini digunakan untuk dapur. Namun sekarang, jarang sekali terdapat dapur di tongkonan karena alasan keamanan dan juga karena bertambahnya wawasan masyarakat setempat akan arti penting kesehatan.

Anak-anak berangkat sekolah.

Anak-anak SDN 3 Rantetayo, di Lembang Ma'dong, Rantetayo, Tana Toraja.

Tongkonan di Lembang Ma'dong
Saat saya tiba, pelajaran di SD Negeri 3 Dende’, Kecamatan Rantetayo tengah berlangsung. Jam pelajaran dimulai pada pukul 07.30 sampai pukul 10.00 untuk siswa kelas 1 dan 2, sedangkan kelas yang lain pelajaran berakhir berakhir pada pukul 13.00. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Indonesia dan Toraja. Bahasa daerah digunakan untuk mempermudah pemahaman siswa terutama siswa kelas 1 dan 2 yang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari. Fasilitas sekolah yang ada sangat sederhana dikarenakan terbatasnya dana dari pemerintah. Bahkan salah satu sisi sekolah hanya ditutup oleh kasa besi, itu pun sudah banyak yang berlubang. Sehingga anak-anak di kelas dengan leluasa melihat keluar. Juga dengan kedatangan kami.
Untuk memajukan sekolah, masyarakat secara swadaya mengumpulkan dana, bahkan ketika musim panen padi tiba siswa-siswa sekolah memotong padi ke sawah milik warga dan hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan sekolah.
Ma’dong, sebuah potret tentang keindahan, keramahan, dan juga kesederhanaan Tana Toraja. Walaupun manusia kadang sulit untuk merasa puas tapi saya harus meninggalkan kedamaian tempat ini. Dan terbersit dalam benak ini, “Satu saat, saya akan kembali.”

Helena Tulak.
Feb 5th, 2010 by Yang Punya Diary
Feb 5th, 2010 by Iip